Fakta di lapangan menunjukkan bahwa customer semakin kritis, customer banyak maunya dan satu hal customer ibarat bayi yang baru lahir yang inginnya disuapi dan disayang. Bagaimana kita mampu mengubah pemikiran kita untuk mengantisipasi perubahan tersebut?
Selama ini mungkin karena fokus perhatian kita terjebak mengarah pada hal-hal yang kuantitatif saja. Misalnya target penjualan, efisiensi biaya, produktivitas kerja dan banyaknya target yang harus dipenuhi. Semua itu dilakukan tanpa memahami akar masalah pelanggan yang sebenarnya. Bahkan karena hal ini , kita juga bisa melupakan untuk menerapkan customer intimacy (akrab dengan pelanggan) dengan baik, sehingga melupakan kunci keberhasilan suatu penjualan.
Paradigma itu telah berubah. “Perubahan dimulai dari diri kita berupa keyakinan yang diamini oleh hati nurani akan membuahkan perilaku yang positif” menurut teori Maslow, orang kreatif adalah orang yang tidak takut akan bawah sadarnya, kekanak-kanakannya, fantasinya. Dia orang yang dengan tepat dan efisien menggunakan pikirannya secara lancar dan fleksibel. Dia juga menciptakan perubahan yang mendasar untuk memilih variasi pendekatan untuk memecahkan masalah dengan tepat pula. “Janganlah takut terhadap kebiasaan yang telah mengakar dalam alam bawah sadar kita, gunakan mata hati untuk melihat sudut sempit menuju peluang yang lebih besar”.
Dalam dinamikanya, perubahan terkadang memunculkan “Sang Maestro” yang dapat menjadi pembimbing dan tempat bagi kita untuk bertanya, namun hal tersebut jangan membuat kita menjadi lengah, karena kembali lagi pelaku utama dalam setiap inisiatif perubahan ini adalah kita sendiri. Apa yang dapat kita lakukan untuk tetap meningkatkan performance diri kita?
Kembali jawabannya ada pada diri kita sendiri. Ada dua pilihan, yang pertama, kita bisa memilih untuk santai saja dan membiarkan diri kita mengikuti pola kebiasaan kita yang lama, atau kita mau mengubah kebiasaan kita untuk lebih proaktif, mau belajar dan membiasakan diri untuk mencari tahu segala sesuatu dengan fasilitas yang ada. Dalam mengefektifkan diri kita lebih proaktif dibutuhkan rasa percaya diri dimana rasa percaya diri mudah muncul menjadi need bila dilandasi oleh sikap positif dan mencoba untuk memunculkan rasa suka terhadap lingkungan.
“Proaktif dan Antisipatif adalah titik awal pengendalian diri kita guna mencapai ha-hal yang besar”
Gunawan Geniusaharja, salah seorang direksi PT. Astra International Tbk pernah mengatakan, “Bekerja dengan hati, melihat dengan kaki”. Bekerja dengan hati maksudnya kalau kita bekerja harus dengan senang hati, karena dengan perasaan senang pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik.
Ide-idepun secara kreatif keluar mengalir seperti air. Melihat dengan kaki esensinya adalah semua permasalahan harus dihadapi, harus benar-benar kita selesaikan dengan tuntas. Jangan menunda-nunda permasalahan. Sesungguhnya permasalahan-permasalahan inilah yang membuat kita dewasa. Kuncinya adalah dalam bertindak, apabila dilakukan dengan sepenuh hati dan diselesaikan secara tuntas akan menjadi perubahan yang signifikan, dalam sudut pandang kita. Setidak-tidaknya kita mempunyai sudut pandang yang lebih besar dari sebelumnya yang cenderung santai, tidak mau berubah, kaku terhadap keyakinan dan lari dari masalah. Begitukah kita selama ini? “Bekerja keras dan sepenuh hati adalah dua ikon positif menuju kunci keberhasilan”.
Berubah modalnya kemauan untuk belajar, dengan belajar hal-hal baru akan menumbuhkan spirit baru. Berubah juga membutuhkan sikap tidak sungkan untuk masuk dalam lingkungan baru. Berubah artinya harus dapat mengambil timing dengan tepat, memang tidak mudah membaca timing dengan cepat. Sadarilah timing, sangatlah penting bagi pelaku dunia usaha.
|